Selasa, 01 Mei 2012

Laporan Uji Praktikum Biologi : Respirasi pada Serangga



LAPORAN UJI PRAKTIKUM


I.       Judul                          : Uji Respirasi pada Serangga

II.    Tujuan                       : Menguji dan mencatat kadar/kekuatan serta waktu proses respirasi pada serangga

III. Alat dan Bahan         :
1.      Respirometer Sederhana
2.      Timbangan
3.      Papet
4.      2 Ekor belalang, serangga / hewan kecil lainnya
5.      Kristal KOH/NaOH (untuk mengikat oksigen)
6.      Eosin / tinta (sebagai tanda, untuk mempernudah pengamatan)
7.      Vaselin / plastisin (untuk merekatkan respirometer, mencegah O2 masuk)
8.      Kapas

IV. Cara Kerja                :
1.      Siapkan kapas yang telas dicampur/dioleskan kristal NaOH / KOH, kemudian masukan kristal NaOH / KOH pada kapas tersebut ke dalam bagian belakang respirometer sederhana!
2.      Masukan serangga / belalang yang akan diuji coba kedalam bagian belakan respirometer sederhana!
3.      Oleskan vaselin / plastisin pada ujung bagian belakang resporometer sederhana untuk merakatkan dengan bagian skala dan mencegah oksigen masuk!
4.      Tutuplah ujung respirometer sederhana dengan jari + 1 menit  kemudian masukan larutak eosin kedalam ujung skala respirometer sederhana melalui jarum suntik!
5.      Amati reaksi respirasi yang berlangsung dan bergesernya skala kedudukan eosin pada skala respirometer sederhana selama 2 menit hingga 5 kali!


V.    Hasil Pengamatan     :

a.       Tabel Pengamatan


No
Jenis Hewan
Skala Kedudukan Eosin Tiap 2 Menit sekali
1
2
3
4
5
1
Belalang Kecil
0,44
0,25
0,23
0

2
Jangkrik Besar
0,27
0,21
0,11
0,10
0,9




b.      Penjelasan

Dalam pembahasan yang kami uji cobakan, kami menguji kdar dan lamanya serta kekuatan proses respirasi pada hewan khususnya pada serangga dengan menggunakan respirometer sederhana, dan larutan eosin, berdasarkan praktikum yang kami laksanakan sesuai dengan hasil yang tertera pada tabel pengamatan bahwa  jenis serangga dan hasil dari praktikum yang kami uji cobakan adalah :

1.            Belalang kecil, kami menguji jenis hewan ini ( belalang kecil ) dengan dimasukan pada respirometer sederhana yang telah berisi kristan NaOH yang berfungsi untuk mengikat CO2 (karbon dioksida), kemudian kami memasukan eosin untuk mempermudah proses pengamatan setelah kami tutup selama 1 menit, akhirnya mulai terlihat proses respirasi pada hewan, 2 menit pertama kedudukan eosin pada respirirometer sederhana ialah 0,44 mm kemudian pada 2 menit kedua 0,25 mm, pada 2 menit ketiga 0,23 mm dan pada 2 menit keempat eosin pada skala sudah mencapai 0 sehingga hal tersebut menjelaskan bahwa belalang tersebut berrespirasi/ bernafas cukup kuat, dan selama beberapa menit oksigen berkurang karena terjadi proses respirasi pada serangga ( ditandai dengan bergesernya keadaan skala respirometer) yakni belalang tersebut menghirup udara atau O2 (Oksigen)  untuk proses respirasi/proses pernafasan, dan berkurangnya kedudukan eosin pada skala (seperti pada tabel pengamatan) membuktikan bahwa setiap 2 menit proses respirasi / pernafasan pada belalang semakin melemah karena kadar O2 (Oksigen) semakin berkurang.

2.            Jangkrik besar, kami menguji jenis hewan ini ( jangkrik besar) seperti halnya pada belalang kecil, yaitu dengan dimasukan pada respirometer sederhana yang telah berisi kristan NaOH yang berfungsi untuk mengikat CO2 (karbon dioksida), kemudian kami memasukan eosin untuk mempermudah proses pengamatan setelah kami tutup selama 1 menit, hewan ini pun memperlihatkan reaksi respirasinya/ proses pernafasannya, ditandai dengan berubahnya / majunya keadaan skala respirometer sederhana, pada 2 menit pertama, keadaan skla respirometer menunjukan 0,27mm kemudian pada 2 menit kedua 0,21mm, dan pada 2 menit ketiga 0,11mm, kemudian pada 2 menit keempat 0,10mm, dan pada 2 menit terakhir 0,9mm. Hal tersebut menjelaskan bahwa hewan tersebut (jangkring besar) berespirasi/ bernafas dengan lemah namun berdasarkan teori pembahasan yang kami pelajari, seharusnya Jangkrik besar tersebut berespirasi lebih kuat dari belalang kecil, hal ini dapat terjadi karena beberapa kemungkinan,yakni tlah lelahnya keadaan jangkrik tersebut sehingga berespirasi lebih lambat.Dan berbergesernya eosin pada skala respirometer membuktikan bahwa selama beberapa menit oksigen berkurang karena terjadi proses respirasi pada serangga (jangkrik besar), dan semakin sedikitnya / berkurangnya kadar / proses respirasi pada jangkrik setiap 2 menit sekali yang ditandai dengan semakin kecilnya angka (mm) pada sekala (seperti pada tabel hasil pengamatan) membuktikan bahwa setiap 2 menit proses respirasi / pernafasan pada belalang semakin melemah karena kadar O2 (Oksigen) semakin berkurang.



VI.             Kesimpulan

Setelah kami menguji proses respirasi pada 2 ekor serangga yakni Jangkrik besar dan Belalang kecil, kami menyimpulkan bahwa:
1.      Bahwa pada serangga terjadi proses respirasi dengan kekuatan berespirasi yang berbeda.
2.      Belalang kecil berrespirasi / bernafas cukup kuat, dan setiap 2 menit sekali, kadar atau kekuatan respirasi tersebut berkurang karena kadar oksigen pun berkurang hal ini membuktikan bahwa pada serangga terjadi respirasi dan memerlukan oksigen, ditandai dengan berkurangnya kedudukan skala eosin setiap 2 menit pertama hingga 2 menit kelima.
3.      Belalang besar berrespirasi / bernafas kuat, dan setiap 2 menit sekali, kadar atau kekuatan respirasi tersebut berkurang karena kadar oksigen pun berkurang hal ini membuktikan bahwa pada serangga terjadi respirasi dan memerlukan oksigen ditandai dengan berkurangnya kedudukan skala eosin setiap 2 menit pertama hingga 2 menit kelima.

VII.          Daftar Pustaka

Wartono,Priyo dkk.2009.LKS Biologi  SMA/MA Semester Genap.Klaten: CV.Grafika 27




0 komentar:

Poskan Komentar

 

afkar.afkar.afkar Copyright © 2008 Green Scrapbook Diary Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez